Close Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Forum Kepakaran Indonesia Gelar Diskusi Publik Bertema Kerangka Mewujudkan Kesejahteraan dan Keberlanjutan di Bidang Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045 (Cek Faktanya)

Menjelang HUT DKI Jakarta ke-499, Ketum AsMEN Cetuskan Gagasan Indonesia Bebas Utang (Cek Faktanya)

Optimisme untuk Indonesia: Gagasan Amich Alhumami pada Peringatan 1 Syuro 1448 H. Al Zaytun (Cek Faktanya)

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
Asia Terkini
Subscribe Now
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
Asia Terkini
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita
You are at:Home»Terkini»Forum Kepakaran Indonesia Gelar Diskusi Publik Bertema Kerangka Mewujudkan Kesejahteraan dan Keberlanjutan di Bidang Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045 (Cek Faktanya)
Terkini

Forum Kepakaran Indonesia Gelar Diskusi Publik Bertema Kerangka Mewujudkan Kesejahteraan dan Keberlanjutan di Bidang Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045 (Cek Faktanya)

penulisBy penulisJuni 19, 2026 5:48 am004 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Bekasi, 17/06/2026 – Forum Kepakaran Indonesia (FKI) kembali menggelar diskusi publik bertajuk “Kerangka Mewujudkan Kesejahteraan dan Keberlanjutan di Bidang Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045” di Studio AsMEN Discussion Forum (ADF), Jalan Puncak Cikunir, Kota Bekasi, Rabu (17/6/2026).

Diskusi menghadirkan Ketua Bidang Riset dan Inovasi FKI Prof. Dr. Agus Heri Purnomo, Ph.D., Ketua Umum FKI Dr. Risman Pasaribu, serta anggota Dewan Pakar FKI Prof. Dr. Edy Yuwono, M.Sc. yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting.

Sejumlah tokoh dari berbagai kalangan turut hadir, di antaranya wartawan senior Dr. Robin Ch. Simanullang, Ketua Umum AsMEN Nurkholis, CPLA, penulis buku Hojot Marluga, Dr. Sastra Suganda, akademisi, dan jurnalis dari berbagai media.

Diskusi yang dipandu Ridho sebagai moderator berlangsung interaktif dengan berbagai pertukaran gagasan mengenai tantangan dan peluang pembangunan sektor perikanan nasional.

Dalam pengantarnya, Ridho menegaskan bahwa sektor perikanan merupakan salah satu pilar penting pembangunan nasional. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budidaya.

Meski demikian, potensi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesejahteraan nelayan yang belum merata, dampak perubahan iklim, degradasi lingkungan pesisir, hingga tuntutan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan bagi generasi mendatang.

“Kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Agus Heripurnomo menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak inovasi dan teknologi di bidang kelautan dan perikanan yang berpotensi menghasilkan produk bernilai tinggi untuk industri pangan, farmasi, kosmetik, hingga kesehatan.

Namun, menurutnya, pemanfaatan hasil riset tersebut masih jauh dari optimal karena adanya kesenjangan antara dunia penelitian, industri, dan kebijakan pemerintah.

“Banyak inovasi yang berhenti di laboratorium dan belum berkembang menjadi produk yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun dunia usaha,” kata Prof. Agus.

Ia mengungkapkan sejumlah potensi besar yang dapat menjadi sumber pendapatan nasional, antara lain rumput laut, garam, dan bioteknologi kelautan.

Menurutnya, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar di dunia, namun belum mampu memaksimalkan nilai ekonominya akibat berbagai hambatan perdagangan dan penguasaan teknologi.

Hal serupa terjadi pada industri garam nasional yang masih menghadapi kendala teknologi produksi dan faktor geografis. Karena itu, penerapan teknologi modern dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas garam dalam negeri.

Di bidang bioteknologi, Prof. Agus menilai Indonesia tidak kekurangan inovasi, tetapi masih lemah dalam aspek komersialisasi.

“Indonesia tidak kekurangan inovasi, tetapi masih miskin komersialisasi. Banyak teknologi yang sudah tersedia, namun belum mampu menjangkau pasar secara luas,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pola perdagangan nasional yang masih didominasi ekspor bahan mentah. Menurutnya, Indonesia harus bertransformasi dari negara pengekspor komoditas menjadi negara yang mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi.

Sementara itu, Ketua Umum FKI Dr. Risman Pasaribu menekankan pentingnya pembenahan regulasi tata ruang kawasan pesisir, sungai, dan laut guna mendukung pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.

“Kita perlu mengubah paradigma tata ruang. Kawasan pesisir laut maupun sungai harus ditata dengan baik sehingga mampu menjadi bagian dari pembangunan ekonomi masyarakat,” ujar Risman.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pengawasan wilayah laut dan pesisir yang dinilai masih lemah sehingga berdampak pada pemanfaatan sumber daya laut yang belum optimal.

“Kita memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi harus didukung regulasi yang kuat, pengawasan yang efektif, serta pemanfaatan teknologi yang tepat agar keunggulan itu benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat,” katanya.

Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Edy Yuwono yang bergabung secara daring menekankan bahwa Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya alam maupun teknologi untuk memajukan sektor perikanan dan kelautan.

“Laut Indonesia sangat luas, sumber daya ikannya melimpah, dan keanekaragaman hayati lautnya sangat kaya. Teknologi juga semakin berkembang. Yang masih menjadi tantangan adalah kualitas sumber daya manusia yang belum sepenuhnya siap,” ujar Prof. Edy.

Menurutnya, pemerintah perlu melakukan reformasi pendidikan yang lebih berorientasi pada kebutuhan industri kelautan dan perikanan, termasuk memperkuat pendidikan vokasi di wilayah pesisir.

Ia mendorong peningkatan jumlah sekolah kejuruan yang fokus pada bidang perikanan, perkapalan, dan kelautan guna mencetak tenaga kerja yang terampil dan siap bersaing.

Diskusi publik tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya penguatan riset dan inovasi, hilirisasi produk perikanan, pembenahan regulasi, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya perikanan menuju Indonesia Emas 2045.

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleMenjelang HUT DKI Jakarta ke-499, Ketum AsMEN Cetuskan Gagasan Indonesia Bebas Utang (Cek Faktanya)
penulis

Related Posts

Menjelang HUT DKI Jakarta ke-499, Ketum AsMEN Cetuskan Gagasan Indonesia Bebas Utang (Cek Faktanya)

Juni 18, 2026 8:00 pm

Optimisme untuk Indonesia: Gagasan Amich Alhumami pada Peringatan 1 Syuro 1448 H. Al Zaytun (Cek Faktanya)

Juni 17, 2026 3:51 pm

Peringatan 1 Muharam 1448 H, Dr. Kartini Istiqomah Takjub dengan Model Pendidikan Terpadu di Mahad Al-Zaytun (Cek Faktanya)

Juni 17, 2026 10:09 am
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Percepat Pertumbuhan Ekonomi, Wamendagri Ribka Dorong Pemda Maluku Optimalkan Potensi Maritim (Cek Faktanya)

Juni 6, 2026 11:00 am2 Views

Rekomendasi Guru Besar dan Cendikiawan Indonesia dengan tema “Transformasi Revolusional Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Raya Abadi” (Cek Faktanya)

Juni 5, 2026 5:01 am1 Views

Forum Kepakaran Indonesia Gelar Diskusi Publik Bertema Kerangka Mewujudkan Kesejahteraan dan Keberlanjutan di Bidang Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045 (Cek Faktanya)

Juni 19, 2026 5:48 am0 Views
© 2026 asiaterkini. Designed by asiaterkini.
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Tulis Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.